Hargai HidupMu, Maknai, dan Jangan Sia-siakan karena kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya
July 27, 2008 by lumeks
Jaga apa yang kau miliki, sebelum kau kehilangannya
Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan
multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang
yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh
memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti
sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun
baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya
hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di
rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena
memikirkan musibah ini.
Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan
Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga
merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang
bisa saya harapkan. Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan
kepergian Bik Inah pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian
Narkoba.
Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak
Begitu hebat pada putri kami.
Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia
telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur
2 tahun. Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu
kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang
saya baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik
Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.
Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname
di rumah sakit selama 3 minggu) Maya hanya menulis singkat sebuah
kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya
itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya
akui ini semua karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk
Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih
banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.
Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin
lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk
memikirkan urusan mereka.
Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun
sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin
tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan
kantor.
Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti
bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu
terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti
bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya. Padahal sebagai
seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan
ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.
Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan
mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana
kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa
gunanya saya sekolah tinggi-tinggi?. Meski sebenarnya suami saya juga
seorangyang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan. Dan biasanya
setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya
namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan
kantor dan karir fokus saya.
Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka,
toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan
dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.
Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan
begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah dari anak yang
begitu manis menjadi pemakai Narkoba.
Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini
selalu terngiang di telinga.
Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan
kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah
dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka
akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.
Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun
sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi ,
setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah
meninggal dunia di Rumah Sakit.
Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari
rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada
ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter
di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya. Dan
usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya
kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu
kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas
melahirkan mereka saja ke dunia.
Tragis !
Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau
lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa
bik Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara
pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai
kuliah dan belajar di pesantren. Dan Doni pun begitu bersemangat untuk
hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa
di kantor saya atau ayahnya.
Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya
tersenyum bersama. Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat
itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya. Setelah bik Inah meninggal
Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan
membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami
lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor. Dan di
halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.
Maya menulis :
"Ya Allah kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin
Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau
pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat sholat, siapa yang Maya
cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak
bisa tidur……….Ya Allah , Maya kangen banget sama bik Inah "
Astagfirullah …….bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya,
bukan bik Inah ? Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun
semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua
bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu. Kadang
saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV da n saya
pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.
Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi
sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran
darinya. Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada
terbayang beratnya. Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa
menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan
saya seorang yang mengalaminya. Saat ini saya sedang mengikuti program
konseling/therapy dan Mencoba aktif ikut dipengajian-pengajian untuk
menentramkan hati saya.
Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua. Saya tidak
ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu
tidak mungkin!
Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya.
Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.
Dan semoga Allah mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya
pada saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon
"YA Allah seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya,
sungguh tangguhkanlah Ya Allah, biar saya yang menggantikan tempatnya
kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu".
Semoga Allah mengabulkan doa saya.
apa yang kita miliki saat ini mungkin belum berarti apa-apa sampai kita kehilangannya. dan kisah di atas aku petik dari kisah nyata seorang ibu yang kehilangan mutiara yang paling berharga dalam hidupnya.
By : Luqman Syam
Mahasiswa Unhas Jurusan Teknik Komputer
Klo dah D baca, Please ngasih commnent ya